11 Kerajaan pada Masa Hindu Dan Buddha di Indonesia

Indonesia mempunyai sejarah berdirinya kerajaan-kerajaan yang besar. Terutama kerajaan yang bercorak agama Hindu dan Buddha. Sumber sejarah didapat berupa prasasti dan berita Cina. Karena zaman dulu sudah mengalami perdagangan dengan negara lain. Dengan arkeolog dan para ahli di Indonesia bisa terungkap kerajaan yang pernah berdiri.

Candi Borobudur
Candi Borobudur Mahakarya Dynasti Syailendra

Contoh kerajaan di Indonesia yang menganut agama Hindu dan Buddha adalah Kerajaan Kutai, Tarumanegara, Kalingga, Sriwijaya, Mataram Kuno, Kediri, Singhasari, Majapahit, Buleleng dan Dinasti Warmadewa di bali,Tulang Bawang, dan Kota Kapur.

Kerajaan berdiri karena dipimpin oleh seorang raja. Raja yang pintar dalam strategi akan membawa kerajaannya berjaya. Akan tetapi bila seorang raja yang tidak pandai dalam memimpin akan mengalami kehacuran. 

Berikut adalah nama kerajaan yang bercorak Agama Hindu dan Buddha:

1. Kerajan Kutai

Kerajaan yang pertama di Indonesia adalah Kerajaan Kutai. Kerajaan ini diperkirakan terletak di daerah Muarakaman tepi sungai Mahakam kalimanan Timur. Sungai Mahakam sangat besar dan mempunyai beberapa anak sungai. Sehingga sangat strategis posisi kerajaan ini untuk perekonomian.

Umtuk mengetahui perkembangan Kerajaan Kutai memerlukan beberapa sumber salah satunya dari prasasti yang disebut Yupa. Yupa adalah berupa batu tulis dan juga sebagai tugu peringatan dari upacara kurban. Prasasti Yupa ditulis dengan huruf pallawa dan bahasa sanskerta. Para Ahli dengan melihat hurufnya berpendapat yupa ini dibuat sekitar abad ke 5 M.

Dalam prasasti yupa terdapat informasi penting berupa silsilah raja kutai. Diterangkan bahwa Kudungga mempunyai putra bernama Aswawarman. Raja Aswawarman dikatakan seperti Dewa Ansuman (Dewa Matahari). Aswawaman mempunyai tiga anak tetapi yang terkenal adalah Mulawarman. Pada masa pemerintahan Mulawarman dikatakan zaman keemasan dan sebagai raja yang terbesar di Kutai. Raja ini sangat dermawan dan dekat dengan kaum Brahmana dan rakyat. Ia memeluk agama Hindu Siwa yang setia.Mulawarman mengadakan kurban emas dan 20.000 ekor lembu untuk para Brahmana. Sebagai ucapan terimakasih para Brahmana mendirikan Yupa. Satu diantara yupa di kerajaan kutai berisi "Sang Mulawarman, raja yang mulia dan terkemuka, telah memberi sedekah 20.000 ekor sapi kepada para brahmana yang seperti api, (berempat) didalam tanah yang sangat suci (bernama) Waprakeswara".

2. Kerajaan Tarumanegara

Raja terkenal di kerajaan Tarumanegara adalah Purnawarman. Setelah Kerajaan Kutai berkembang di Kalimanan Timur, di Jawa bagian barat muncul kerajaan Tarumanegara. Sejarah tertua yang berkaitan dengan pengendalian banjir dan sistem pengairan adalah pada masa kerajaan ini. Raja Purwnawarman menggali sungai Candrabaga untuk mengendalikan banjir dan usaha pertanian yang diduga di wilayah Jakarta. Berkat Sungai itulah penduduk kerajaan ini makmur.

Sumber sejarah Tarumanegara yang utama adalah beberapa prasasti yang telah ditemukan. Ada tujuh buah prasasti yang berhuruf Pallawa dan berbahasa Sansekerta. Prasati itu adalah:

a. Prasasti Tugu ditemukan dikampung Batu Tumbuh, desa Tugu, dekat Tanjung Priok, Jakarta.
Dituliskan dalam lima baris tulisan. Inskripsi tersebut isinya sebagai berikut:

"Dulu (kali yang bernama) Candrabhaga telah digali oleh maharaja yang mulia dan mempunyai lengan kencang dan kuat, (yakni Raja Purnawarman), untuk mengalirkan ke laut. Setelah (kali ini) sampai di istana kerjaan yang termashur. Pada tahun ke-22 dari tahta yang mulia Raja Purnawarman yang berkilauan-kilauan karena kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi panji-panji segala raja, (maka sekarang) beliau memerintahkan pula menggali kali yang permai dan berair jernih, Gomati namanya, setelah kali itu mengalir di tengah-tengah tanah kediaman yang mulia Sang Pendeta Nenekda (Sang Purnawarman). Pekerjaan ini mulai pada hari baik, tanggal delapan paroh gelap bulan Phalguna dan selesai pada tanggal 13 paroh terang bulan Caitra, jadi hanya dalam 21 hari saja, sedang galian itu panjangnya 6.122 busur (11 km).Selamatan baginya dilakukan oleh Brahmana disertai persembahan 1.000 ekor sapi". 

b. Prasati Ciaruteun ditemukan di kampung Muara, Desa Ciaruteun Hilir, Cibungbulang, Bogor.
Pasasti ini terdiri dari atas dua bagian yaitu Inskripsi A yang dipahatkan dalam emoat baris tulisan berakasara Pallawa dan bahasa Sanskerta. Inskripsi B yang terdiri satu baris tulisan yang belum dapat dibaca dengan jelas. Inskripsi ini disertai pula gambar sepasang telapak kaki.
Inskripsi A isinya sebagai berikut:

"ini (bekas) dua kaki, yang seperti kaki Dewa Wisnu, ialah kaki yang mulia Sang Purnawarman, raja di negeri Taruma, Raja yang gagah berani di dunia".

Inskripsi B belum jelas: Dibaca oleh J.L.A Brandes sebagai "Cri Tji aroe? Eun waca (Cri Ciaru?eun wasa). Oleh H. Kern dibaca sebagai " Purnawarman-padam" yang berarti "telapak kaki Purnawarman".

c. Prasasti Kebon Kopi ditemukan di kampung Muara, Desa Ciaruetun Hilir, Cibungbulang, Bogor. Dipahatkan dalam satu baris yang diapit oleh dua buah pahatan telapak kaki gajah.Prasasti ini isinya:

"Di sini tampak sepasang telapak kaki .... yang seperti (telapak kaki) Airawata, gajah penguasa Taruma (yang) agung dalam .... dan (?) kejayaan."

d. Prasasti Muara Cianten. Terletak di muara kali cianten, kampung Muara, Desa Ciaruteun Hilir, Cibungbulan, Bogor. Inskripsi ini belum dapat, dipahatkan dalam bentuk "aksara" yang menyerupai sulur-suluran. Para ahli menyebutnya aksara ikal.

e. Prasasti Jambu (Pasir Koeangkak). Terletak di sebuah bukit (pasir) Koleangkak, Desa Parakan Muncang, Nanggung, Bogor.
Inskripsi dituliskan dalam dua baris tulisan aksara pallawa dan Sanskerta isinya sebagai berikut:

"Gagah, mengagumkan dan jujur terhadap tugasnya, adalah pemimpin manusia yang tiada taranya, yang termashur Sri Purnawarman, yang sekali waktu (memerintah) di Tarumanegara dan yang baju ziarahnya yang terkenal tiada dapat ditembus senjata musuh. Ini adalah sepasang telapak kakinya, yang senantiasa berhasil menggempur musuh, hormat kepada para pangeran, tetapi merupakan duri dalam daging musuh-musuhnya".

f. Prasasti Cidanghiang (Lebak). Terletak di kali cidanghiang, Desa Lebak, Munjul, Banten Selatan. Prasasti ini dituliskan dalam dua baris bahasa Palla dan Sanseketa yang artinya :

"inilah (tanda) keperwiraan, keagungan, dan keberanian yang sesungguhnya dari Raja Dunia, yang Mulia Purnawarman, yang menjadi panji sekalian raja-raja.

g. Prasasti Pasir Awi terdapat disebuah bukit. Prasati ini terletak di bukit Pasir Awi di kawasan perbukitan Desa Sukamakmur, Jonggol, Bogor. Inskripsi ini tidak dapat dibaca karena lebih berupa gambar (piktograf) dari pada tulisan. Dibagian atas inskripsi terdapat sepasang telapak kaki.

Kerajaan Tarumanegara berkembang pada abad-5 M dimasa Raja Purnawarman. Dalam kehidupan agama sebagian besar memeluk Hindu. Sebagian kecil masih memeluk agama nenek moyang (animisme). Raja memeluk agama Hindu.

3. Kerajaan Kalingga

Penguasa Kerajaan Kalingga adalah Ratu Sima. Dia dikenal sebagai seorang pemimpin wanita yang tegas dan taat terhadap peraturan yang berlaku dalam kerajaan itu. Kerajaan ini disebut juga Holing diperkirakan terletak di kecamatan Keling, Jepara, Jawa Tengah atau di sebelah utara gunung Muria. Kerajaan ini berkembang kira-kira abab ke-7 sampai ke-9 M. Salah satu raja yang terkenal adalah wanita yaitu Ratu Sima memerintah sekitar tahun 674 M. Pada masa dia menjabat jadi pemimpin hukum dilaksanakan seadil-adilnya. Tidak membedakan rakyat dan anggota kerabat sendiri. Agama utama yang dianut penduduk Kalingga adalah Buddha. Kepemimpinan yang adil membuat rakyat menjadi teratur, aman dan tenteram. Kerajaan ini mengalami kemunduran kemungkinan akibat serangan dari Sriwijaya yang menguasai perdagangan tahun 742-755 M.

4. Kerajaan Sriwijaya

Sriwijaya saat abad ke-7 adalah kerajaan yang kecil tetapi berkembang. Ada yang berpendapat bahwa pusat Kerajaan Sriwijaya di palembang, ada yang berpendapat di Jambi, bahkan ada yang berpendapat diluar Indonesia. Akan tetapi banyak para ahli berpendapat pusat kerajaan di Palembang dekat pantai dan di tepi sungai Musi. Ketika pusat kerajaan sriwijaya di palembang mulai menunjukkan kemunduran, Sriwijaya pindah ke Jambi.

Perkembangan kerajaan mulai berkembang abad ke-7 saat raja disebut dengan Dapunta Hyang. Sriwijaya terus melakukan perluasan daerah. Sehingga menjadi kerajaan besar. Pada raja Darmasetra tahun 775 M dibangunlah sebuah pangkalan di daerah Ligor untuk memperkuat pertahanannya. Raja yang terkenal sampai zaman keemasan dari kerajaan Sriwijaya adalah Balaputradewa pada abad ke-9 M. Raja Balaputradewa adalah keturunan dari Dinasti Syailendra, yakni putra dari Raja Samaratungga dengan Dewi Tara dari Sriwijaya. Hal tersebut dterangan daam prasasti Nalanda.

Pada tahun 990 M yang menjadi raja adalah Sri Sudamaniwarmadewa. Pada pemerintahan raja ini terjadi serangan raja Darmawangsa dari jawa bagian timur. Tetapi bisa digagalkan tentara sriwijaya. lalu digantikan oleh putranya yang bernama Marawijayottunggawarman.

Sriwijaya disebut sebagai negara nasional yang pertama oleh Muhammad Yamin karena wilayah kekuasannya yang luas. Pada masa kejayaan mengusai Sumatra dan pulau-pulau sekitar Jawa bagian barat, sebagaian Jawa bagian tengah, sebagian kalimantan, Semenanjung Melayu, dan hampir seluruhperairan Nusantara.

Tetapi mengalami kemunduran karena beberapa hal seperti keadaan sekitar berubah, tidak dekat dengan pantai. disebabkan aliran sungai Musi, Ogan dan komering banyak lumpur. Akibatnya Sriwijaya tidak baik untuk berdagang. Banyak kekuasaan yang melepaskan diri karena melemahnya angkatan laut. Segi politik beberapa kali mendapat serangan dari kerajaan-kerajaan lain. Tahun 1377 armada angkatan laut Majapahit menyerang Sriwijaya. Serangan ini mengakhiri riwayat kerajaan Sriwijaya.

Sumber sejarah kerajaan Sriwijaya yang penting adalah prasasti. Prasasti yang ditulis dengan huruf Pallawa dan bahasa Melayu kuno. Disamping prasasti berita Cina juga penting seperti berita dari I-tsing yang pernah tinggal di Sriwijaya. prasasti tersebut sebagai berikut:

a. Prasasti Kedukan Bukit ditemukan di tepi sungai tatang, dekat palembang. Prasasti ini berangka tahun 605 Saka (683 M). Isinya menerangkan bahwa seorang bernama Dapunta Hyang mengadakan perjalanan suci (siddhayatra) dengan menggunakan perahu. Ia berangkat dari Minangatamwan dengan membawa tentara 20.000 personel.

b. Prasasti Talang Tuo ditemukan di sebelah barat kota palembang di daerah talang tuo. Prasasti yang berangka 606 Saka (684 M). Isinya tentang pembangunan sebuah taman yang disebut Sriksetra. Taman ini dibuat oleh Dapunta Hyang Sri Jayanaga.

c. Prasasti Telaga Batu ditemukan di Palembang. Prasasti ini tidak berangka tahun. Isinya kutukan-kutukan yang menakutkan bagi yang berbuat kejahatan.

d. Prasasti Kota Kapur ditemukan di Pulau Bangka tahun 608 Saka (656 M). Isinya permintaan kepada para dewa untuk menjaga kedatuan Sriwijaya, dan menghukum setiap orang yang bermaksud jahat.

e. Prasasti Karang Berahi ditemukan di Jambi, berangka tahun 608 saka (686 M). Isinya sama dengan prasasti kota kapur.

f. Prasasti yang lain seperti Ligor berangka tahun 775 M di semanjung Melayu dan prasasti Nalanda di India Timur.

5. Kerajaan Mataram Kuno

Kerajada ini berdiri pada pertengahan abad ke-8 di Jawa bagian tengah. Untuk mengetahui perkembangan kerajaan Mataram kuno digunakan sumber berupa prasasti. Yaitu prasasti Canggal, Prasasti Kalasan, Prasasti Klura, Prasasti Kedu atau Prasasti Baltung. Selain itu berita Cina juga ikut andil dalam mengetahui perkembangan kerajaan ini.

Menurut prasasti Canggal ( kerangka tahun 732 M ) diterangkan bahwa Raja Sanna telah digantikan oleh Sanjaya. Raja Sanjaya mendirikan bangunan suci sebagai tempa pemujaan. Merupakan lambang keberhasilan setelah menaklukkan raja-raja lain. Dia bersikap arif, adil dalam memerintah dan mempunyai pengetahuan yang luas.

Raja selanjutnya adalah Rakai Panangkaran anak dari Sanjaya. Raja ini memberikan tanah dan membangun candi untuk Dewi Tara dan sebuah biara untuk para pendeta agama Buddha terletak di Kalasan. Prasasti Kalasan menerangkan bahwa raja Panangkaran disebut dengan nama Syailendra Sri Maharaja Dyah Pancapana Rakai Panangkaran.

Pada saat masa perpecahan keluarga Syailendra agama Hindu meninggalkan bangunan candi dijawa bagian utara. Seperti candi komplek pegunungan Dieng ( candi dieng )dan kompleks candi Gedongsongo. Candi Dieng memakai nama tokoh wayang yaitu Candi Bima, Puntadewa, Arjuna, dan Semar. Sementara yang beragama Buddha meninggalkan candi seperti Candi Ngawen, Mendut, Pawon dan Borobudur. Candi Borobudur diperkirakan dibangun pada tahun 824 M oleh Samaratungga. Perpecahan itu tidak berlangsung lama Dynasti Syailendra bersatu kembali dan dibawah pimpinan Raja Pikatan.

Setelah Samaratungga wafat, anaknya dengan Dewi Tara bernama Balaputradewa menentang terhadap Pikatan. Balaputradewa membuat benteng Candi Boko disebelah selatan prambanan. Dia terdesak lalu melarikan diri ke Sumatra dan menjadi raja di Kerajaan Sriwijaya.

Pada tahun 856 Rakai Pikatan turun takhta dan digantikan oleh Kayuwangi atau Dyah lokapala. Selantnya Kayuwangi digantikan oleh Dyah Balitung thun 898-911 M. Dia membangun Candi Prambanan sebagai candi yang anggun dan megah.Setelah Baitung berakhir, kerajaan mataram kuno mulai mengalami kemunduran. Raja setelah Balitung adalah Daksa, Tulodong, dan Wawa. Penyebab kemunduran yaitu bencana alam dan ancaman dari musuh kerajaan sriwijaya.

6. Kerajaan Kediri

Tahun 1104M tampil kerajaan Panjalu sebagai rajanya Jayawangsa. Kerajaan ini lebih dikenal Kerajaan Kediri dengan ibu kota Daha.

Tahun 1117 M Bameswara tampil sebagai Raja kediri. Prasasti yang ditemukan adalah Padlegan (1117M) dan Panumbangan (1120M).
Isinya yang adalah pemberian status perdikan untuk beberapa desa.

Tahun 1135 raja selanjutnya adalah Jayabaya. Ia sangat terkenal. Meninggalkan Prasasti Hantang atau Ngantang (1135M), Talan (1136M) dan Prasasti Desa Jepun (1144M). Prasasti Hantang memuat tulisan Panjalu Jayati artinya Panjalu menang. Hal ini untuk mengenang kemenagan Panjalu atas Jenggala.

Di masyarakat Jawa nama Jayabaya sangat dikenal dengan ramalan atau Jangka Jayabaya. Pada pemerintahan Jayabaya teah digubah Kitab Baratayuda oleh Mpu Sedah dan kemudian dilanjutkan oleh Mpu Panuluh. Dibidang kebudayaan yang menonjol adalah perkembangan seni sastra dan pertunjunkan wayang. Di kediri dikenal adanya wayang panji.

Beberapa Sastra yang dikenal di masa kerajaan Kediri yaitu:

a. Kitab Baratayuda  Ditulispada zaman Jayabaya. Memberikan gambaran terjadi perang saudara antara Panjalu melawan Jenggala. Perang Saudara digambarkan perang Kurawa dengan Pandawa yang masing-masing keturunan Barata.

b. Kitab Kresnayana ditulis oleh Mpu Triguna pada zaman Raja Jayaswara. Isinya perkawinan antara Kresna dan Dewi Rukmini.

c. Kitab Smaradahana ditulis pada zaman raja Kameswari oleh Mpu Darmaja. Isinya menceritakan tentang suami istri Smara dan Rari yang menggoda Dewi Syiwa yang sedang bertapa. Mereka kena kutuk dan mati terbakar oleh api (dahana) karen akesaktian Dewa Syiwa. Smawa dan Rati dihidupkan lagi dan menjelma sebagai Kameswara dan permaisurinya.

d. Kitab Lubdaka ditulis oleh Mpu Tanakung pada zaman Raja Kameswara. Isinya tentang pemburu bernama Lubduka. Ia banyak membunuh. Ia mengadakan pemujaan istimewa terhadap dewa Syiwa sehingga rohnya yang mestinya masuk neraka menjadi masuk surga.

Raja terakhir di kerajaan Kediri adalah Kertajawa atau Dandang Gendis. Ia berlaku sombong dan berani melanggar adat. Terjadi pertentangan dengan para pendeta atau kaum brahmana. Kaum Brahmana mencari pelindungan kepada Ken Arok penguasa Tumapel. Tahun 1222M Ken Arok memenangkan dalam penyerangan kediri bersama para Brahmana.

7. Kerajaan Singhasari

Ditahun 1222-1227M Kerajaan Kediri kalah kemudian Ken Arok mendirikan kerajaan Singhasari di kota Malang, Jawa Timur. Menurut Kitab Pararaton Ken Arok adalah seorang anak petani bernama Ken Endok dari Gunung Kawi daerah Malang.

Tahun 1227 M Anusapati naik takhta kerajaan Singhasari. Ia memerintah 21 tahun tetapi tidak banyak berbuat untuk pembangunan kerajaan.

Tahun 1248 Tohjoyo membunuh Anjsapati dan menjadi Raja. Tidak teralu lama masa pemerintahannya.Ia meninggal di daerah Katang Lumbang akibat luka luka setelah serangan Ronggowuni.

Tahun 1248-1268 setelah naik tahkta Ranggowuni bergelar Sri Jaya Wisnuwardana. Dalam pemerintahannya di dampingi Mahesa Cempaka berkedudukan sebagai Ratu Anggabaya dan bergelar Narasimhamurti.

Tahun 1268-1292 Kertanegara naik takhta menggantikan Ronggowuni. IA bergelar Sri Maharajadiraja Sri Kertanegara. Pada masa ini agama Hindu Buddha berkembang dengan baik. Bahkan terjadi Sinkrestisme antara agama Hindu dan Buddha contohnya aliran Tantrayana.

8. Kerajaan Majapahit

Majapahit berdiri antara abad ke-14 - ke-15 setelah kerajaan Singhasari jatuh. Kerajaan ini direncanakan oleh Kertarajasa Jayawarddhana ( Raden Wijaya ). Raden Wijaya dan Arya Wiraraja membuka Hutan di wilayah yang disebut di kitab Pararatpn sebagai "hutan orang trik". Desa itu dinamai Majapahit diambil dari buah maja dan rasa pahit.  Raden wijaya wafat digantikan oleh putranya Jayanegara. Jayanegara kurang bijaksana dan suka bersenang-senang. Banyak pemberontakan dimasa pemerintahannya. Salah satunya pemberontakan Kuti. Gajah Mada kemudian menyusun strategi dan berhasil menghancurkan pasukan Kuti. Ia diangkat menjadi Patih Kahuripan (1329-1321M) dan patih kediri (1322-1330M).

Tahun 1350 hngga 1389 M Majapahid diimpin oleh Hayam Wuruk disebut juga Rajasanagara. Ia memerintah mencampai puncak kejayaan. Menurut Kakawin Nagarakertagama pupuh XIII-XV, daerah kekurasaan Majapahit meliputi sumatra, semenanjung Malaya, Kalimantan, Sulawesi, Kepulauan Nusa Tenggara, Maluku, Papua, Tumasik (Singapura) dan sebagian kepulauan Filipina. Gajah Mada bersumpah tidak akan beristirahat (amuki palapa) jika belum dapat menyatukan seluruh nusantara dikenal sumpah palapa. Saa pemerintahan Hayam Wuruk erdapat sumber sejarah penting kitab Sutasoma. Kitab ini disusun oleh Mpu Tantular. Memuat kata-kata yang sekrang menjadi semboyan negara Indonesia. Yakni, Bhineka Tunggal Ika.

9. Kerajaan Buleleng dan Kerajaan Dinasti di Bali

Pada masa kerajaan dinasti Warmadewa, Buleleng diperkirakan menjadi salah satu daerah kekuasan Dinasti Warmadewa. Buleleng berkembang menjadi pusat perdagangan laut karena terletak di tepi pantai. Buleleng dirikan oleh I Gusti Ngurak Panjo Sakti. Dengan perkembangan perdaganggan laut antarpulau di zaman kuno. Buleleng memiliki peranan penting bagi perkembangan kerajaan-kerajaan di Bali misalnya pada masa Kerajaan Dinasti Warmadewa

10. Kerajaan Tulang Bawang

Kerajaan Tulang Bawang terletak di Lampung.

11. Kerajaan Kota Kapur

Kerajaan ini diperkirakan sebelum muncur kerajaan Sriwijaya. Meninggalkan temuan-emuan arkeologi berupa sisa-sisa sebuah bangunan Candi Hindu (Waisnawa) terbuat dari batu bersama dengan arca-arca batu. Temuan lain penting dari situs kota kapur yaitu peninggalan berupa benteng pertahanan yang kokoh.

Demikian contoh kerajaan-kerajaan Hindu dan Buddha yang pernah ada di Indonesia. Sebagai orang Indonesia harus tahu sejarah kerajaan zaman dulu. Semoga artikle ini bisa menambah wawasan ilmu bagi pembaca.

Related Posts

Subscribe Our Newsletter